Pagi itu, seperti ratusan bahkan ribuan pagi sebelumnya
Daun itu hanya mampu bolak-balik berterbangan diombang-ambing angin di antara dua merpati yang bertengger berjauhan.
Ingin sekali Ia menyampaikan kerinduan yang amat dalam yang juga tak mampu disuarakan sahabatnya, angin. Ia hanya mampu gelisah tak tentu arah hingga akhirnya tua, menguning dan mati. Merpati itu pun pergi berlawanan arah dengan langkah goyah membelah angkasa yang kian memerah ulah matahari yang marah. Rindunya? Perlahan patah terbelah pasrah... Wednesday, 03: 40. April, 27, 2016
Saturday, November 19, 2016
Patah terbelah pasrah
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment